Label

TEKS BERJALAN

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA SALAMAKKI' KI PADA SALAMA'

Kamis, 23 Mei 2013

Rekaman Siswa SMP 15 Simbang


                                                     TRIO SMP 15 SIMBANG MAROS

Minggu, 19 Mei 2013

Minggu, 12 Mei 2013

Kamis, 09 Mei 2013

Jumat, 03 Mei 2013

Video lucu








WAT'S uP

Suku Dani

ADAT DAN BUDAYA SUKU DANI

Suku bangsa Dani adalah sebutan bagi penduduk yang tinggal di Lembah Baliem (Keturunan Moni, penduduk dataran tinggi Pinai, yang datang ke Lembah Baliem), yang memiliki luas sekitar 1.200 Km2.
Dani adalah orang asing yang awalnya berbunyi Ndani, setelah ada perubahan fenom "N" hilang menjadi Dani dan masuk ke pustaka etnografi.
Suku Dani lebih senang disebut suku Parim. Suku ini sangat menghormati nenek moyangnya dengan penghormatan mereka biasanya dilakukan melalui upacara pesta babi.
Bahasa Dani terdiri dari 3 sub keluarga bahasa, yaitu:
- Sub keluarga Wano
- Sub keluarga Dani Pusat yang terdri ataslogat Dani Barat dan logat lembah Besar Dugawa.
- Sub keluarga Nggalik & ndash; Dugawa
Selain itu juga bahasa suku Dani termasuk keluarga bahasa Melansia dan bahasa Irian (secara umum).

Sistem Religi / Kepercayaan
Dasar religi masyarakat Dani adalah sama uraian yang di atas yaitu menghormati roh nenek moyang dan juga diselenggarakannya upacara yang dipusatkan pada pesta babi. Konsep kepercayaan / keagamaan yang terpenting adalah Atou, yaitu kekuatan sakti para nenek moyang yang diturunkan secara patrilineal (diturunkan kepada anak laki-laki). Kekuasaan sakti ini antara lain :
- kekuatan menjaga kebun
- kekuatan menyembuhkan penyakit dan menolak bala
- kekuatan menyuburkan tanah
Untuk menghormati nenek moyangnya, suku Dani membuat lambang nenek moyang yang disebut Kaneka. Selain itu juga adanya Kaneka Hagasir yaitu upacara keagamaan untuk menyejahterakan keluarga masyarakat serta untuk mengawali dan mengakhiri perang.

Sistem Kekerabatan Sistem kekerabatan masyarakat Dani ada tiga yaitu kelompok kekerabatan, paroh masyarakat, dan kelompok teritorial.
a. Kelompok kekerabatan yang terkecil dalam masyarakat suku Dani adalah keluarga luas. Keluarga luas ini terdiri atas tiga atau dua keluarga inti bersama – sama menghuni suatu kompleks perumahan yang ditutup pagar (lima).
Pernikahan orang Dani bersifat poligami diantaranya poligini. Keluarga batih ini tinggal di satu – satuan tempat tinggal yang disebut siimo. Sebuah desa Dani terdiri dari 3 & ndash; 4 slimo yang dihuni 8 & ndash; 10 keluarga. Menurut mitologi suku Dani berasal dari keuturunan sepasang suami istri yang menghuni suatu danau di sekitar kampung Maina di Lembah Baliem Selatan. Mereka mempunyai anak bernama Woita dan Waro. Orang Dani dilarang menikah dengan kerabat suku Moety sehingga perkawinannya berprinsip eksogami Moety (perkawinan Moety / dengan orang di luar Moety).
b. Paroh masyarakat. Struktur masyarakat Dani merupakan gabungan beberapa ukul (klen kecil) yang disebut ukul oak (klen besar)
c. Kelompok teritorial. Kesatuan teritorial yang terkecil dalam masyarakat suku bangsa Dani adalah kompleks perumahan (uma) yang dihuni untuk kelompok keluarga luas yang patrilineal (diturunkan kepada anak laki-laki).

Kesenian dan Kerajinan
Kesenian masyarakat suku Dani dapat dilihat dari cara membangun tempat kediaman, seperti disebutkan di atas dalam satu silimo ada beberapa bangunan, seperti : Honai, Ebeai, dan Wamai.
Selain membangun tempat tinggal, masyarakat Dani mempunyai seni kerajinan khas, anyaman kantong jaring penutup kepala dan pegikat kapak. Orang Dani juga memiliki berbagai peralatan yang terbuat dari bata, peralatan tersebut antara lain : Moliage, Valuk, Sege, Wim, Kurok, dan Panah sege.

Sistem Politik dan Kemasyarakatan
Masyarakat Dani senantiasa hidup berdampingan dan saling tolong menolong, kehidupan masyarakat Dani memiliki ciriciri sebagai berikut :
- Masyarakat Dani memiliki kerjasama yang bersifat tetap dan selalu bergotong royong
- Setiap rencana pendirian rumah selalu didahului dengan musyawarah yang dipimpin oleh seorang penata adat atau kepala suku
- Organisasi kemasyarakat pada suku Dani ditentukan berdasarkan hubungan keluarga dan keturunan dan berdasarkan kesatuan teritorial. Suku Dani dipimpin oleh seorang kepala suku besar yaitu disebut Ap Kain yang memimpin desa adat watlangka, selain itu ada juga 3 kepala suku yang posisinya berada di bawah Ap Kain dan memegang bidang sendiri & ndash; sendiri, mereka adalah : Ap. Menteg, Ap. Horeg, dan Ap Ubaik
Silimo biasa yang dihuni oleh masyatakat biasa dikepalai oleh Ap. Waregma. Dalam masyarakat Dani tidak ada sistem pemimpin, kecuali istilah kain untuk pria yang berarti kuat, pandai dan terhormat.
Pada tingkat uma, pemimpinnya adalah laki-laki yang sudah tua tetapi masih mampu mengatur urusannya dalam satu halaman rumah tangga maupun kampungnya. Urusan tersebut antara lain : Pemeliharaan kebun dan Bahi, serta Melerai pertengkaran.
Pemimpin federasi berwenang untuk memberi tanda dimulainya perang atau pesta lain. Pertempuran dipimpin untuk para win metek. Pemimpin konfederasi biasanya pernah juga menjadi win metek, meski bukan syarat mutlak, syarat menjadi pemimpin masyarakat Dani : Pandai bercocok tanam, bersifat ramah dan murah hati, pandai berburu, memiliki kekuatan fisik dan keberanian, pandai berdiplomasi, dan pandai berperang.

Sistem Ekonomi
Nenek moyang orang Dani tiba di Irian hasil dari suatu proses perpindahan manusia yang sangat kuno dari daratan Asia ke kepulauan Pasifik Barat Irian Jaya.
Kemungkinan pada waktu itu masyarakat mereka masih bersifat praagraris yaitu baru mulai menanam tanaman dalam jumlah yang sangat terbatas. Inovasi yang berkesinambungan dan kontak budaya menyebabkan pola penanaman yang sangat sederhana tadi berkembang menjadi suatu sistem perkebunan ubijalar, seperti sekarang.
Mata pencaharian pokok suku bangsa Dani adalah bercocok tanam dan beternak babi. Umbi manis merupakan jenis tanaman yang diutamakan untuk dibudidayakan, artinya mata pencaharian umumnya mereka adalah berladang.

Pendidikan
Sebagaimana suku – suku pedalaman Irian seperti halnya suku Dani umumnya tingkat pendidikan (formal) rendah dan kesadaran untuk menimba ilmunya juga masih kurang, ironisnya lagi guru-guru masih terbatas.

Kamis, 02 Mei 2013

Menggambar bentuk





Suku Dayak


BUDAYA SUKU DAYAK

Dayak merupakan sebutan bagi penduduk asli pulau Kalimantan. Pulau kalimantan terbagi berdasarkan wilayah Administratif yang mengatur wilayahnya masing-masing terdiri dari: Kalimantan Timur ibu kotanya Samarinda, Kalimantan Selatan dengan ibu kotanya Banjarmasin, Kalimantan Tengah ibu kotanya Palangka Raya, dan Kalimantan Barat ibu kotanya Pontianak.
Kelompok Suku Dayak, terbagi lagi dalam sub-sub suku yang kurang lebih jumlahnya 405 sub (menurut J. U. Lontaan, 1975). Masing-masing sub suku Dayak di pulau Kalimantan mempunyai adat istiadat dan budaya yang mirip, merujuk kepada sosiologi kemasyarakatannya dan perbedaan adat istiadat, budaya, maupun bahasa yang khas. Masa lalu masyarakat yang kini disebut suku Dayak, mendiami daerah pesisir pantai dan sungai-sungai di tiap-tiap pemukiman mereka.
Etnis Dayak Kalimantan menurut seorang antropologi J.U. Lontaan, 1975 dalam Bukunya Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat, terdiri dari 6 suku besar dan 405 sub suku kecil, yang menyebar di seluruh Kalimantan. Kuatnya arus urbanisasi yang membawa pengaruh dari luar,seperti melayu menyebabkan mereka menyingkir semakin jauh ke pedalaman dan perbukitan di seluruh daerah Kalimantan.
Mereka menyebut dirinya dengan kelompok yang berasal dari suatu daerah berdasarkan nama sungai, nama pahlawan, nama alam dan sebagainya. Misalnya suku Iban asal katanya dari ivan (dalam bahasa kayan, ivan = pengembara) demikian juga menurut sumber yang lainnya bahwa mereka menyebut dirinya dengan nama suku Batang Lupar, karena berasal dari sungai Batang Lupar, daerah perbatasan Kalimantan Barat dengan Serawak, Malaysia. Suku Mualang, diambil dari nama seorang tokoh yang disegani (Manok Sabung/algojo) di Tampun Juah dan nama tersebut diabadikan menjadi sebuah nama anak sungai Ketungau di daerah Kabupaten Sintang (karena suatu peristiwa) dan kemudian dijadikan nama suku Dayak Mualang. Dayak Bukit (Kanayatn/Ahe) berasal dari Bukit/gunung Bawang. Demikian juga asal usul Dayak Kayan, Kantuk, Tamambaloh, Kenyah, Benuag, Ngaju dan lain-lain, yang mempunyai latar belakang sejarah sendiri-sendiri.
Namun ada juga suku Dayak yang tidak mengetahui lagi asal usul nama sukunya. Nama "Dayak" atau "Daya" adalah nama eksonim (nama yang bukan diberikan oleh mayarakat itu sendiri) dan bukan nama endonim (nama yang diberikan oleh masyarakat itu sendiri). Kata Dayak berasal dari kata Daya” yang artinya hulu, untuk menyebutkan masyarakat yang tinggal di pedalaman atau perhuluan Kalimantan umumnya dan Kalimantan Barat khususnya, (walaupun kini banyak masyarakat Dayak yang telah bermukim di kota kabupaten dan propinsi) yang mempunyai kemiripan adat istiadat dan budaya dan masih memegang teguh tradisinya.
Kalimantan Tengah mempunyai problem etnisitas yang sangat berbeda di banding Kalimantan Barat. Mayoritas ethnis yang mendiami Kalimantan Tengah adalah ethnis Dayak, yang terbesar suku Dayak Ngaju, Ot Danum, Maanyan, Dusun, dsb. Sedangkan agama yang mereka anut sangat variatif. Dayak yang beragama Islam di Kalimantan Tengah, tetap mempertahankan ethnisnya Dayak, demikian juga bagi Dayak yang masuk agama Kristen. Agama asli suku Dayak di Kalimantan Tengah adalah Kaharingan, yang merupakan agama asli yang lahir dari budaya setempat sebelum bangsa Indonesia mengenal agama pertama yakni Hindu. Karena Hindu telah meyebar luas di dunia terutama Indonesia dan lebih dikenal luas, jika dibandingkan dengan agama suku Dayak, maka Agama Kaharingan dikategorikan ke cabang agama Hindu.
Propinsi Kalimantan Barat mempunyai keunikan tersendiri terhadap proses alkurturasi cultural atau perpindahan suatu culture religius bagi masyarakat setempat. Dalam hal ini proses tersebut sangat berkaitan erat dengan dua suku terbesar di Kalimantan Barat yaitu Dayak,Melayu dan Tiongkok. Pada mulanya Bangsa Dayak mendiami pesisir Kalimantan Barat, hidup dengan tradisi dan budayanya masing-masing, kemudian datanglah pedagang dari gujarab beragama Islam (Arab Melayu) dengan tujuan jual-beli barang-barang dari dan kepada masyarakat Dayak, kemudian karena seringnya mereka berinteraksi, bolak-balik mengambil dan mengantar barang-barang dagangan dari dan ke Selat Malaka (merupakan sentral dagang di masa lalu), menyebabkan mereka berkeinginan menetap di daerah baru yang mempunyai potensi dagang yang besar bagi keuntungan mereka.
Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Dayak ketika bersentuhan dengan pendatang yang membawa pengetahuan baru yang asing ke daerahnya. Karena sering terjadinya proses transaksi jual beli barang kebutuhan, dan interaksi cultural, menyebabkan pesisir Kalimantan Barat menjadi ramai, di kunjungi masyarakat lokal (Dayak) dan pedagang Arab Melayu dari Selat Malaka. Di masa itu system religi masyarakat Dayak mulai terpengaruh dan dipengaruhi oleh para pedagang Melayu yang telah mengenal pengetahuan, pendidikan dan agama Islam dari luar Kalimantan. Karena hubungan yang harmonis terjalin baik, maka masyarakat lokal atau Dayak, ada yang menaruh simpati kepada pedagang Gujarat tersebut yang lambat laun terpengaruh, maka agama Islam diterima dan dikenal pada tahun 1550 M di Kerajaan Tanjung Pura pada penerintahan Giri Kusuma yang merupakan kerajan melayu dan lambat laun mulai menyebar di Kalimantan Barat.
masyarakat Dayak masih memegang teguh kepercayaan dinamismenya, mereka percaya setiap tempat-tempat tertentu ada penguasanya, yang mereka sebut: Jubata, Petara, Ala Taala, Penompa dan lain-lain, untuk sebutan Tuhan yang tertinggi, kemudian mereka masih mempunyai penguasa lain dibawah kekuasaan Tuhan tertingginya: misalnya: Puyang Gana ( Dayak mualang) adalah penguasa tanah , Raja Juata (penguasa Air), Kama”Baba (penguasa Darat),Jobata,Apet Kuyan'gh(Dayak Mali) dan lain-lain. Bagi mereka yang masih memegang teguh kepercayaan dinamisme nya dan budaya aslinya nya, mereka memisahkan diri masuk semakin jauh kepedalaman.
adapun segelintir masyarakat Dayak yang telah masuk agama Islam oleh karena perkawinan lebih banyak meniru gaya hidup pendatang yang dianggap telah mempunyai peradaban maju karena banyak berhubungan dengan dunia luar. (Dan sesuai perkembangannya maka masuklah para misionaris dan misi kristiani/nasrani ke pedalaman). Pada umumnya masyarakat Dayak yang pindah agama Islam di Kalimantan Barat dianggap oleh suku dayak sama dengan suku melayu. Suku Dayak yang masih asli (memegang teguh kepercayaan nenek moyang) di masa lalu, hingga mereka berusaha menguatkan perbedaan, suku dayak yang masuk Islam(karena Perkawinan dengan suku Melayu) memperlihatkan diri sebagai suku melayu.banyak yang lupa akan identitas sebagai suku dayak mulai dari agama barunya dan aturan keterikatan dengan adat istiadatnya. Setelah penduduk pendatang di pesisir berasimilasi dengan suku Dayak yang pindah(lewat perkawinan dengan suku melayu) ke Agama Islam,agama islam lebih identik dengan suku melayu dan agama kristiani atau kepercayaan dinamisme lebih identik dengan suku Dayak.sejalan terjadinya urbanisasi ke kalimantan, menyebabkan pesisir Kalimantan Barat menjadi ramai, karena semakin banyak di kunjungi pendatang baik local maupun nusantara lainnya.
Untuk mengatur daerah tersebut maka tokoh orang melayu yang di percayakan masyarakat setempat diangkat menjadi pemimpin atau diberi gelar Penembahan (istilah yang dibawa pendatang untuk menyebut raja kecil ) penembahan ini hidup mandiri dalam suatu wilayah kekuasaannya berdasarkan komposisi agama yang dianut sekitar pusat pemerintahannya, dan cenderung mempertahankan wilayah tersebut. Namun ada kalanya penembahan tersebut menyatakan tunduk terhadap kerajaan dari daerah asalnya, demi keamanan ataupun perluasan kekuasaan.
Masyarakat Dayak yang pindah ke agama Islam ataupun yang telah menikah dengan pendatang Melayu disebut dengan Senganan, atau masuk senganan/masuk Laut, dan kini mereka mengklaim dirinya dengan sebutan Melayu. Mereka mengangkat salah satu tokoh yang mereka segani baik dari ethnisnya maupun pendatang yang seagama dan mempunyai karismatik di kalangannya, sebagai pemimpin kampungnya atau pemimpin wilayah yang mereka segani.

Pembagian Ciri Tari Dayak

Berdasarkan wilayah penyebaran kalimantan barat

Bangsa Dayak di Kalimantan Barat terbagi berdasarkan sub-sub ethnik yang tersebar diseluruh kabupaten di Kalimantan Barat. Berdasarkan Ethno Linguistik dan cirri cultural gerak tari Dayak di Kalimantan Barat menjadi 4 kelompok besar, 1 kelompok kecil yakni:
  1. Kendayan / Kanayatn Grop : Dayak Bukit (ahe), Banyuke, Lara, Darit, Belangin, Bakati” dll. Wilayah penyebarannya di Kabupaten Pontianak, Kabupaten Landak, Kabupaten Bengkayang, dan sekitarnya.mempunyai gerak tari, enerjik, stakato, keras.
  2. Ribunic / Jangkang Grop/ Bidoih / Bidayuh : Dayak Ribun, Pandu, Pompakng, Lintang, Pangkodatn, Jangkang, Kembayan, Simpakng, dll. Wilayah penyebarannya di Kabupaten Sanggau Kapuas, mempunyai ciri gerak tangan membuka, tidak kasar dan halus.
  3. Iban / Ibanic : Dayak Iban dan sub-sub kecil lainnya, Mualang, Ketungau, Kantuk, Sebaruk, Banyur, Tabun, Bugau, Undup, Saribas, Desa, Seberuang, dan sebagainya. Wilayah penyebarannya di Kabupaten Sambas (perbatasan), Kabupaten Sanggau / malenggang dan sekitarnya (perbatasan) Kabupaten Sekadau (Belitang Hilir, Tengah, Hulu) Kabupaten Sintang, Kabupaten Kapuas Hulu, Serawak, Sabah dan Brunai Darusalam. mempunyai ciri gerak pinggul yang dominan, tidak keras dan tidak terlalu halus.
  4. Banuaka" Grop : Taman, Tamambaloh dan sub nya, Kalis, dan sebagainya. Wilayah penyebarannya di Kabupaten Kapuas Hulu.ciri gerak mirif kelompok ibanic, tetapi sedikit lebih halus.
  5. Kayaanik, punan, bukat dll.
Selain terbagi menurut ethno linguistik yang terdata menurut jumlah besar groupnya, masih banyak lagi yang belum teridentifikasikan gerak tarinya, karena menyebar dan berpencar dan terbagi menjadi suku yang kecil-kecil. Misalnya Dayak Mali / ayek-ayek, terdapat dialur jalan tayan kearah kab. ketapang. kemudian Dayak Kabupaten Ketapang,Daerah simpakng seperti Dayak Samanakng dan Dayak Kualan, daerah Persaguan, Kendawangan, daerah Kayong, Sandai, daerah Krio, Aur kuning. Daerah Manjau dsb.
Kemudian Dayak daerah Kabupaten Sambas, yaitu Dameo / Damea, Sungkung daerah Sambas dan Kabupaten Bengkayang dan sebagainya. Kemudian daerah Kabupaten Sekadau kearah Nanga Mahap dan Nanga Taman, Jawan, Jawai, Benawas, Kematu dan lain-lain. Kemudian Kabupaten Melawi, yaitu: dayak Keninjal(mayoritas tanah pinoh;antara lain desa ribang rabing, ribang semalan, madya raya, rompam, ulakmuid, maris dll)dayak Kebahan (antara lain desa:poring,nusa kenyikap, Kayu Bunga, dll yang memiliki tari alu dan tari belonok kelenang yang hampir punah), dayak Linoh (antara lain desa:Nanga taum,sebagian ulak muid, mahikam dll), dayak pangen (Jongkong, sebagian desa balaiagas dll), dayak kubing (antara lain desa sungai bakah/sungai mangat,nyanggai,nanga raya dll),dayak limai (antara lain desa tanjung beringin,tain, menukung, ela dll), dayak undau, dayak punan, dayak ranokh/anokh (antara lain sebagian di desa batu buil, sungai raya dll), dayak sebruang (antara lain didesa tanjung rimba, piawas dll),dayak Ot Danum ( masuk kelompok kal-teng), Leboyan.

Latar belakang Tari Ajat Temuai Datai

Latar belakang

"Ajat Temuai Datai" diangkat dari bahasa Dayak Mualang (Ibanic Group), yang tidak dapat diartikan secara langsung, karna terdapat kejanggalan jika di diartikan kata per kata. Tetapi maksudnya adalah Tari menyambut tamu, bertujuan untuk penyambutan tamu yang datang atau tamu agung (diagungkan). Awal lahirnya kesenian ini yakni dari masa pengayauan / masa lampau, diantara kelompok-kelompok suku Dayak. Mengayau, berasal dari kata me – ngayau, yang berarti musuh (bahasa Dayak Iban). Tetapi jika mengayau mengandung pengertian khusus yakni suatu tindakan yang mencari kelompok lainnya (musuh) dengan cara menyerang dan memenggal kepala lawannya. Pada masyarakat Dayak Mualang dimasa lampau para pahlawan yang pulang dari pengayauan dan menang dan membawa bukti perang berupa kepala manusia, merupakan tamu yang agung serta dianggap sebagai seorang yang mampu menjadi pahlawan bagi kelompoknya. Oleh sebab itu diadakanlah upacara “Ajat Temuai Datai”. Masyarakat Dayak percaya bahwa pada kepala seseorang menyimpan suatu semangat ataupun kekuatan jiwa yang dapat melindungi si empunya dan sukunya. Menurut J, U. Lontaan (Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat 1974), ada empat tujuan dalam mengayau yakni: untuk melindungi pertanian, untuk mendapatkan tambahan daya jiwa, untuk balas dendam, dan sebagai daya tahan berdirinya suatu bangunan. Setelah mendapatkan hasil dari mengayau, para pahlawan tidak boleh memasuki wilayah kampungnya, tetapi dengan cara memberikan tanda dalam bahasa Dayak Mualang disebut Nyelaing (teriakan khas Dayak) yang berbunyi Heeih !, sebanyak tujuh kali yang berarti pahlawan pulang dan menang dalam pengayauan dan memperoleh kepala lawan yang masih segar. Jika teriakan tersebut hanya tiga kali berarti para pahlawan menang dalam berperang atau mengayau tetapi jatuh korban dipihaknya. Jika hanya sekali berarti para pahlawan tidak mendapatkan apa-apa dan tidak diadakan penyambutan khusus. Setelah memberikan tanda nyelaing, para pengayau mengirimkan utusan untuk menemui pimpinan ataupun kepala sukunya agar mempersiapkan acara penyambutan. Proses penyambutan ini, melalui tiga babak yakni: Ngiring Temuai (mengiringi tamu ataupun memandu tamu) sampai kedepan Rumah Panjai (rumah panggung yang panjang) proses ngiring temuai ini dilakukan dengan cara menari dan tarian ini dinamakan tari Ajat (penyambutan). Kemudian kepala suku mengunsai beras kuning (menghamburkan beras yang dicampur kunir / beras kuning) dan membacakan pesan atau mantera sebagai syarat mengundang Senggalang burong (burung keramat / burung petuah penyampai pesan kepada Petara atau Tuhannya). Babak yang kedua yakni mancung buloh (menebaskan mandau atau parang guna memutuskan bambu), berarti bambu sengaja dibentangkan menutupi jalan masuk ke rumah panjai dan para tamu harus menebaskan mandaunya untuk memutuskan bambu tersebut sebagai simbol bebas dari rintangan yang menghalangi perjalanan tamu itu. Babak yang ketiga adalah Nijak batu (menginjakkan tumitnya menyentuh sebuah batu yang direndam didalam air yang telah dipersiapkan), sebagai simbol kuatnya tekad dan tinginya martabat tamu itu sebagai seorang pahlawan yang disegani. Air pada rendaman batu tersebut diteteskan pada kepala tamu itu sebagai simbol keras dan kuatnya semangat dari batu itu diteladani oleh pahlawan atau tamu yang disambut. Babak keempat yakni Tama’ Bilik (memasuki rumah panjai), setelah melalui prosesi babak diatas, maka tamu diijinkan naik ke rumah panjang dengan maksud menyucikan diri dalam upacara yang disebut Mulai Burung (mengembalikan semangat perang / mengusir roh jahat).

Rabu, 01 Mei 2013

Menggambar wajah

Menggambar Kucing




Menggambar bibir

Menggambar mata

Melukis











Pengamen Juga

PAKDUPA'ANG


PAKDUPA’ANG SEBAGAI  SARANA RITUAL MASYARAKAT
DESA SAMANGKI  KECAMATAN SIMBANG KABUPATEN  MAROS


 A. PENDAHULUAN
          Kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila adalah perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa. Dengan demikian Pembangunan Nasional merupakan pembangunan masyarakat yang berbudaya.

Kebudayaan merupakan warisan sosial yang dimiliki oleh sekelompok atau golongan pada suatu wilayah tertentu. mereka mematuhi aturan-aturan yang berlaku serta menjunjung tinggi nilai-nilai yang sudah menjadi tradisi yang lahir dan tumbuh secara turun-temurun. Masyarakat  pedesaan memiliki kebiasaan tersendiri yang merupakan warisan dari nenek moyang, baik berupa pelaksanaan upacara adat maupun pembuatan alat bantu yang digunakan pada pelaksanaan upacara.
          Kebiasaaan yang dilakukan masyarakat di suatu wilayah akan berbeda dengan wilayah lainnya. Masyarakat pegunungan serta masyarakat pantai memiliki kebiasaan yang berbeda, demikian pula halnya dengan masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan. budaya masyarakat pedesaan masih dapat dipertahanan karena masyarakatnya masih berasal dari satu keturunan, satu suku atau masih menggunakan satu bahasa.  sedangkan budaya masyarakat perkotaan semakin lama semakin memudar, dipengaruhi oleh masyarakat yang berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda baik dari faktor suku, agama, maupun  bahasa.

         
B. LATAR BELAKANG
          Masyarakat  samangki dan sekitarnya merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Simbang Kabupaten Maros.   Letaknya berada di sebelah timur kota Maros atau kurang lebih 13 km kearah jalan poros Kabupaten Bone,  Desa Samanggi dihuni kurang lebih 900 kepala keluarga atau penduduknya berjumlah sekitar 3200 0rang terdiri dari 5 dusun yaitu Dusun Samanggi, Dusun Samanggi baru, Dusun ballang ajia, dusun Tallasa,  dan dusun Pattunuang.  Wilayahnya terdiri dari 30 persen daratan dan 70 persen pegunungan. Desa samanggi termasuk kedalam kewilayah Kecamatan Simbang Kabupaten Maros yang merupakan kecamatan yang baru terbentuk pada tahun 2000 hasil pemekaran dari kecamatan Bantimurung.
          Desa Samangki adalah satu desa yang masyarakatnya sebagian besar menggantungkan hidupnya dari bercocok tanam. Sumber pendapatan utamanya adalah padi dan palawija. Bahasa yang digunakan adalah bahasa campuran Bugis dan  Makassar. Masyarakat Dusun samanggi dan samanggi baru kebanyakan menggunakan bahasa Bugis dari pada Makassar, sedangkan dusun Ballang ajia, dusun Pattunuang  dan dusun Tallasa lebih didominasi bahasa Makassar. 100 persen masyarakat desa Samangki menganut agama Islam.
          Kehidupan masyarakat desa Samangki berjalan sebagaimana desa-desa disekitarnya.  Kebiasaan yang dilakukan masyakatnya tidak dijumpai hal yang menyolok yang membuat desa Samangki lebih dikenal oleh daerah luar dibanding desa disekitarnya, dan tidak ada pula sumber informasi tentang kebiasaan para leluhur yang pernah menjadi ciri khas adat di desa Samanggi yang sudah terlupakan atau punah.
          Pola pikir masyarakat samangki cenderung mengikuti perkembangan jaman yang semakin modern, tidak terdapat benda-benda seni yang khusus dibuat di desa Samangki yang menjadi simbol atau ciri khas yang memiliki nilai estetika  yang dikenal masyarakat luar, akan tetapi ditengah prilaku masyarakat yang semakin maju, masih ada kebiasaan yang dilakukan yang mencerminkan bahwa masyarakat desa Samangki masih memiliki budaya yang dipertahankan sejak jaman dahulu.

           Walaupun tidak dikenal oleh dunia luar sebagian besar masyarakat desa Samanggi masih aktif melaksanakan upacara-upacara yang bersifat tradisional pada waktu-waktu tertentu. Upacara yang dilakukan berupa meminta doa kepada yang maha pencipta agar niat atau cita-cita yang diinginkan dapat tercapai tanpa mengalami hambatan. Masyarakat samangki menyebutnya “assuro baca” (bahasa bugis) atau “assuro mmaca” (bahasa makassar).
          Penulis membatasi kajian kegiatan secara mendalam tentang upacara “assuro baca”  atau “assuro mmaca” , akan tetapi penulis akan mencoba membahas tentang alat bantu yang berupa hasil karya seni yang digunakan dalam pelaksanaan upacara tersebut yakni addupang (bahasa bugis) atau pakdupa’ang (bahasa makassar)

C. SENI RUPA TRADISIONAL SULAWESI-SELATAN
          Karya seni rupa tradisional sulawesi-selatan tersebar diberbagai penjuru  wilayah. Hampir disemua tempat dijumpai karya seni yang dipergunakan masyarakat untuk membantu aktifitasnya dalam menjalani kehidupan, oleh karena itu penulis mencoba mengkaji salah satu karya seni tradisonal tempat pembakaran kemenyan atau dupa di desa Samangki Kecamatan Simbang Kabupaten Maros.

C. 1.  PROSES PEMBUATAN PAKDUPA’ANG  MASYARAKAT DESA SAMANGKI   
          KECAMATAN SIMBANG KAB. MAROS
            c.1.1. Alat
                      Alat  yang  digunakan pada proses  pembuatan  tempat  membakar  dupa
                      sangat   sederhana. Disamping   menggunakan   tangan   sebagai   unsur
                      utama   dibutuhkan  alat   pendukung  seperti   pisau,  parang,  cetakan 
                      serta   alat  pengaduk tanah dari kayu atau bambu.

             c.1.2. Bahan
     
                      Bahan  yang  digunakan  didapatkan  disekitar  wilayah   samangki   pula,
                      seperti  tanah  liat,  abu  hasil  pembakaran  sekam  padi,  air   serta  daun
                      kapok.

             c.1.3. Teknik pembuatan

                      Teknik  yang  digunakan  pada   proses   pembuatan   tempat   membakar
                       kemenyan  adalah  teknik  cetak. Teknik  ini  dilakukan  setelah  melalui
                       proses  pengolahan tanah. Tanah yang  digunakan adalah jenis  tanah                 
                       liat   yang  memiliki  daya   lengket  yang   cukup  tinggi.  Setelah  tanah
                       dibersihkan  dari   kotoran   baik  berupa   akar-akaran,  dedaunan   dan
                       batu-batuan   maka   tanah  liat  sudah  siap  diaduk  dengan   abu  dari
                       sekam  padi  dengan  perbandingan  1:1. Untuk  menghindari keretakan
                       saat    pembakaran    maka    masyarakat    samanggi    dan   sekitarnya
                       menggunakan  daun  kapok  yang  di tumbuk  dan  dicampur  dengan air.
                       Air dari hasil penyaringan digunakan sebagai  pengaduk tanah liat dan
                       abu dari sekam padi.
                       Setelah proses  pengadukan  dianggap  sudah rata  dilanjutkan dengan
                       proses   pencetakan.  Alat   cetak   biasanya   dibuat   dari   kaleng   atau
                       ember,   dan    disesuaikan    dengan    besar   karya   yang     diinginkan.
                       Setelah  melalui  waktu  sekitar 24 jam  maka  cetakan sudah dibuka dan
                       Dilanjutkan   dengan   merapikan  bagian-bagian   yang  membutuhkan
                       perbaikan.  Karya    dianggap    selesai    apabila   telah   melaui   proses
                       pembakaran.
  
D. TINJAUAN KARYA SENI PAKDUPA’ANG DARI BERBAGAI ASPEK

1. Ritual magis
         Tempat membakar kemenyan atau dupa digunakan pada setiap upacara tradisional masyarakat di desa Samangki, baik dilakukan secara kelompok  maupun dilakukan oleh satu keluarga. Masyarakat bugis di Desa Samangki menyebutnya “addupang” sedangkan masyarakat yang menggunakan bahasa Makassar  menyebutnya “pakdupa’ang”. alat ini digunakan sebagai tempat membakar kemenyan atau dupa. Kayu kemenyan atau dupa adalah salah satu jenis kayu yang mengeluarkan aroma harum saat melalui proses pembakaran, jenis kayu ini diperoleh dari hutan rimba sekitar Kecamatan Simbang diluar zona taman nasional Bulu Saraung atau cagar alam karaengta.
         Masyarakat samangki menyakini bahwa dengan membakar dupa serta diiringi doa atau mantra yang dipimpin oleh seorang  ahli di bidang itu, masyarakat samangki menyebutnya “pinati” maka  segala bentuk permintaan akan dikabulkan oleh yang maha kuasa.  Kemenyan atau dupa dianggap memiliki aroma yang  khas dan harum yang diyakini akan mudah tercium oleh malaikat.
Jenis-jenis kegiatan  di desa Samangki yang mengunakan alat bantu “addupang atau “pakdupa’ang” sebagai pelengkap ritual magis adalah sebagai berikut:
1. Songka bala atau Tulak bala
2. Mappassilik
3. Doa asyura menyambut bulan Muharram
4. Sunatan atau Khitan
5. Menyambut bula suci ramadhan
6. Menyambut hari lebaran
7. Memulai kerja sawah dan lai-lain

Addupang atau pakdupaang merupakan suatu alat yang sudah menjadi kebutuhan disetiap rumah tangga disekitar Desa Samangki, Kecamatan Simbang serta sebagian besar masyarakat Kabupaten Maros. Akan tetapi sebagian kecil dari masyarakat  Samangki dan sekitarnya sudah mulai tidak menggunakan alat tersebut dan tidak mengadakan lagi ritual magis  karena dipengaruhi oleh aliran agama yang tidak lagi menghendaki kegiatan semacam itu karena dianggap menyalahi aturan-aturan dalam agama Islam. 
         Masyarakat memiki tujuan masing-masing dalam melakukan kegiatan ritual, ada yang meminta diberikan kesehatan, kekuatan, keselamatan serta rezki dari yang maha kuasa.  Upacara dilakukan dengan penuh khidmat dan suasana hening menyelimuti para anggota keluarga yang mengikuti jalannya ritual. Setelah upacara ritual dianggap selesai, maka para anggota keluarga atau kelompok tertentu larut dalam suasana kegembiraan menikmati hidangan-hidangan khusus berdasarkan tujuan dari ritual yang dilakukan.
                       
2. Sosial budaya
          Tidak ada informasi yang akurat mengenai sejak kapan masyarakat samangki menggunakan addupang atau pakdupa’ang sebagai sarana dalam melakukan kegiatan ritual, akan tetapi kegiatan itu masih berlangsung disaat jaman sudah  modern. Pengaruh modernisasi hampir tidak mampu memengaruhi pola pikir masyarakat desa Samangki secara keseluruhan, walapun tidak dipungkiri bahwa sekitar 5 persen dari penduduknya sudah mulai tidak fanatik lagi terhadap kegiatan tersebut yang disebabkan oleh aturan-aturan agama.
          Adupang atau pakdupa’ang merupakan suatu simbol pelaksanaan ritual magis. Kebiasaan yang dilakukan oleh sebuah keluarga atau golongan dapat di ketahui dengan melihat keberadaan benda ini. Bagi keluarga atau golongan memiliki benda ini dapat diartikan bahwa keluarga atau golongan tersebut masih melakukan kegiatan ritual. Ini disebabkan  fungsi benda tersebut hanya untuk membakar kemenyan atau kayu dupa saja dan hampir tidak ada masyarakat yang menggunakannya  ke hal-hal yang lain.                 
3. Ekonomi
          Proses pembuatan sebuah addupang atau pakdupa’ang  tidak membutuhkan biaya yang banyak, ini disebabkan karena alat dan bahan yang digunakan merupakan bahan alam yang mudah didapatkan disekitar lingkungan tempat tinggal masyarakat Desa Samangki. Demikian pula halnya dengan waktu yang digunakan tidak memerlukan waktu yang lama dalam menyelesaikan sebuah karya.
          Pelaksanaan upacara yang dilakukan tidak memandang tingkat kemampuan ekonomi sebuah keluarga atau kelompok, akan tetapi berdasarkan kebiasaan dan niat dari  keluarga atau golongan yang melakukannya.




4. Politik
          Proses pelaksanaan upacara yang dilakukan dengan menggunakan alat bantu addupang atau pakdupa’ang dapat memengaruhi seluruh anggota keluarga atau golongan untuk turut serta menundukkan kepala sebagai bentuk kesetiaan kepada kegiatan ritual yang dilakukannya. Sambil membakar dupa atau kemenyan, pemimpin ritual atau “pinati” membacakan doa-doa sesuai dengan tujuan pelaksanaan kegiatan ritual.
          Kegiatan ritual dilakukan untuk menumbuhkan rasa percaya diri dalam melakukan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Tanpa melaksanakan ritual, masyarakat merasa was-was atau muncul rasa keraguan dalam menjalani aktivitas yang dilakukannya. Konon kabarnya banyak  para pejuang pada jaman dahulu menggunakan alat ini untuk melakukan ritual khusus untuk mendapatkan ilmu yang dapat memberikan kekuatan dalam melumpuhkan musuh.
5. Estetika tradisional
          Pakdupa’ang  dibuat dengan tidak  mementingkan unsur keindahan, ini disebabkan karena alat ini dibuat hanya diperuntukkan  sebagai alat bantu masyarakat dalam melangsungkan kegiatan yang bersifat sakral.  Disamping bentuk yang sangat sederhana, tidak  terdapat  motif yang menjadi ciri khas desa Samangki. Pakdupa’ang  di desa Samangki dibuat untuk dipergunakan sendiri oleh pembuatnya, dan tidak dibuat untuk dikomersialkan.
         Masyarakat Samangki  membuat  Pakdupa’ang tidak merasa dituntut  untuk menciptakan bentuk-bentuk yang indah, akan tetapi lebih memikirkan unsur pakainya. Ini disebabkan karena tidak adanya persaingan bentuk yang menuntut adanya perubahan.  Berbeda dengan Pakdupa’ang yang didapatkan di pasar yang sudah memiliki bentuk yang memiliki nilai estetika serta motif dan nilai keindahan  yang dapat memengaruhi konsumen untuk mendapatkannya. 


5.1. Bentuk
          Bentuk pakdupa’ang di desa samangki tidak memiliki bentuk standar pada proses penciptaannya, akan tetapi berdasakan kepada  selera pemakai. Bentuk bundar lebih digemari oleh masyarakat Samangki dari pada bentuk segi empat atau bentuk lainnya. Dilihat dari bentuk secara keseluruhan serta bahan-bahan yang digunakan maka pakdupa’ang termasuk karya seni yang tergolong sebagai karya gerabah. 
5.2. warna
           Masyarakat Samangki  tidak memberikan pewarna khusus pada pakdupa’ang yang dibuatnya. Warna yang muncul adalah warna khas tanah yang setelah melalui proses pembakaran yaitu berwarna kecoklat-coklatan, kehitam -hitaman, atau ke ungu-unguan. Warna kecoklat-coklatan dan warna keungu-unguan dengan sendirinya akan berubah menjadi warna hitam disebabkan oleh usia paddupa’ang serta pengaruh panas dan asap kayu dupa saat pelaksanaan ritual berlangsung.
5.3. fungsi pembuatan
           Karya pakdupa’ang dibuat disesuaikan dengan bentuk upacara yang dilakukan. Karena upacara ritual yang dilakukan dengan duduk bersila maka karya pakdupa’ang yang dibuat tidak membutuhkan  ukuran  tinggi dan besar, cukup disesuaikan dengan ketinggian paha orang dewasa yang sedang duduk bersila, sehingga dapat memudahkan para pemimpin upacara atau pinati dalam melakukan pembakaran kayu kemenyan atau kayu dupa.
           Demikian pula dengan besar mulut lubang disesuaikan dengan kebutuhan.  Bara api yang dibutuhkan tidak perlu banyak untuk membakar kayu dupa yang telah di iris kecil, sehingga ukuran mulut lubang yang dianggap sudah cukup apabila  berdiameter antara 10 – 15 cm. serta kedalaman sekitar 8-12 cm.










Seni Rupa Prasejarah


SENI RUPA PRASEJARAH INDONESIA

Zaman prasejarah (Prehistory) adalah zaman sebelum ditemukan sumber – sumber atau dokumen – dokumen tertulis mengenai kehidupan manusia. Latar belakang kebudayaannya berasal dari kebudayaan Indonesia yang disebarkan oleh bangsa Melayu Tua dan Melayu Muda. Agama asli pada waktu itu animisme dan dinamisme yang melahirkan bentuk kesenian sebagai media upacara (bersifat simbolisme) zaman prasejarah Indonesia terbagi atas: zaman Batu dan zaman Logam.
1.                          Seni Rupa Zaman Batu

Jaman batu terbagi lagi menjadi: zaman batu tua (Palaeolithikum), zaman batu menengah (Mesolithikum), zaman batu muda (Neolithikum), kemudian berkembang kesenian dari batu di zaman logam disebut zaman megalithikum (Batu Besar).
Peninggalan – peninggalannya yaitu:

a)      Seni Bangunan

Manusia phaleolithikum belum memiliki tempat tinggal tetap, mereka hidup mengembara (nomaden) dan berburu atau mengumpulkan makanan (food gathering) tanda – tanda adanya karya seni rupa dimulai dari zaman Mesolithikum. Mereka sudah memiliki tempat tinggal di goa – goa. Seperti goa yang ditemukan di di Sulawesi Selatan dan Irian Jaya. Juga berupa rumah – rumah panggung di tepi pantai, dengan bukti – bukti seperti yang ditemukan di pantai Sumatera Timur berupa bukit – bukit kerang (Klokkenmodinger) sebagai sisa – sisa sampah dapur para nelayan
Kemudian zaman Neolithikum, manusia sudah bisa bercocok tanah dan berternak (food producting) serta bertempat tinggal tinggal di rumah – rumah kayu / bambu
Pada zaman megalithikum banyak menghasilkan bangunan – bangunan dari batu yang berukuran besar untuk keperluan upacara agama, seperti punden, dolmen, sarkofaq, meja batu dll.

b)       Seni Patung

Seni patung berkembang pada zaman Neolithikum, berupa patung – patung nenek moyang dan patung penolak bala, bergaya non realistis, terbuat dari kayu atau batu. Kemudian zaman megalithikum banyak ditemukan patung – patung berukuran besar bergaya statis monumental dan dinamis piktural.
c)      Seni Lukis

Dari zaman Mesolithikum ditemukan lukisan – lukisan yang dibuat pada dinding gua seperti lukisan goa di Sulawesi Selatan dan Pantai Selatan Irian Jaya. Tujuan lukisan untuk keperluan magis dan ritual, seperti adegang perburuan binatang lambang nenek moyang dan cap jari. Kemudian pada zaman neolithikum dan megalithikum, lukisan diterapkan pada bangunan – bangunan dan benda – benda kerajinan sebagai hiasan ornamentik (motif geometris atau motif perlambang).

*      Zaman Batu Tua (Paleolitikum)

Berdasarkan temuan geologis, arkeologis, dan paleontologis, zaman batu tua diperkirakan berlangsung selama 600.000 tahun.Selama kurung waktu tersebut manusia hanya menggunakan alat-alat yang paling dekat dengan lingkungan hidup mereka seperti kayu, bambu, dan batu.Mereka menggunakan batu yang masih kasar untuk berburu binatang.Pada saat itu batu juga berfungsi sebagai kapak yang digenggam untuk memotong kayu atau membunuh binatang buruan.
Kehidupan sosial zaman ini masih nomaden atau berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.Kepindahan mereka bergantung pada daya dukung alam berupa tersedianya bahan makanan, terutama binatang buruan.Jika binatang buruan dan bahan makanan yang diambil dari hutan sudah habis, mereka akan mencari dan berpindah ke tempat yang lebih subur.Begitu seterusnya.
Jadi inti kegiatan hidup sehari-hari mereka adalah mengumpulkan bahan makanan dari alam untuk dikomsumsi saat itu.Kegiatan seperti itu disebut peradaban food gathering atau pengumpul makanan tahap awal.

*      Zaman Batu Tengah (Mezolitikum)

Ciri utama peradaban zaman ini adalah manusianya telah bertempat tinggal tetap.Para ahli ilmu purbakala menyebutkan bahwa zaman ini berlagsung kurang lebih 20.000 tahun silam dan dianggap sebagai perkembangan”yang lebih cepat” daripada zaman batu tua.Manusia pendukung zaman ini juga bertempat tinggal di gua yang disebut peradaban abris sous roche.
Ciri utama kehidupan zaman ini adalah peninggalan sampah dapur yang menurut penemunya disebut kjokkenmoddinger.Peradaban ini ditemukan disepanjang pantai timur Sumatera, dari Aceh sampai Sumatera bagian Tengah.Disepanjang pantai tersebut ditemukan tumpukan sampah berupa kulit siput dan kerang.Diduga sampah tersebut dibuang dari tempat tinggal mereka dari generasi yang satu ke generasi yang lain sehingga menumpuk.Mereka melakukannya di tempat yang sama karena mereka telah bertempat tingal menetap.Tumpukan sampah itulah yang disebut kjokkenmoddinger.
Dari tempat sampah dapur tersebut ditemukan juga kapak genggam yang disebut pebble.Mereka juga menggunakan batu pipih dan batu landasan untuk menggiling makanan serta membuat cat yang diperkirakan ada kaitannya dengan kepercayaan mereka.Mereka menggunakan batu yang lebih halus serta panah ergigi yang terbuat dari tulang-tulang hewan untuk berburu binatang.Dari temuan gambar Babi Hutan di Gua Leang-Leang, Sulawesi Selatan yang umurnya sekitar 4000 tahun, diperkirakan bahwa binatang uruan mereka adalah Babi Hutan.Di Gua, mereka juga telah mengenal Seni yang berkaitan dengan kepercayaan mereka, seperti tergambar dari lukisan tangan berwarna merah pada dinding gua tersebut.

*      Zaman Batu Muda (Neolitikum)

Ciri utama zaman batu muda adalah manusia telah menghasilkan makanan atau menjadi pendukung peradaban food producing.menurut Dr.R.Soekmono, ahli arkeologi Indonesia, perubahan dari food gathering ke food producing merupakan satu revolusi karena terjadi perubahan yang cukup mendasar dari tradisi pengumpul makanan menjadi pembuat makanan.Oleh sebab itu, zaman ini dianggap zaman peradaban Indonesia sekarang.
Batu yang mereka gunakan untuk mempermudah hidup sehari-hari telah diasah sehingga terciptalah kapak persegi dan kapak lonjong.Terbentuknya kepandaian mengasah batu menjadi kapak dalam berbagai bentuk tersebut merupakan suatu proses evolusi.Berkembangnya kemampuan berpikir serta tuntutan hidup sehari-hari mempengaruhi terbentuknya gagasan dan tradisi mengasah batu.
Manusia pendukung peradaban ini sudah sudah bertempat tinggal menetap, bercocok tanam, beternak, mengembangkan perikanan atau dengan kata lain telah mengembangkan kebudayaan agraris walaupun dalam tingkatan yang masih sangat sederhana.Mereka juga telah mampu membuat tempat tinggal yang permanen, membuat kerajinan, membuat aturan hidup bersama dalam satu komunitas, misalnya untuk pembagian kerja, dan memiliki kepercayaan terhadap arwah orang yang pertama kali mengembangkan kampung tempat tinggal mereka.

*      Zaman Batu Besar (Megalitikum)

Ciri terpenting pada zaman ini adalah manusia pendukungnya telah menciptakan bangunan-bangunan besar yang terbuat dari batu.Bangunan-bangunan yang berkaitan dengan sistem kepercayaan mareka diantaranya menhir, dolmen, sarkopagus (keranda), kubur batu, punden berundak, dan Arca.
Masyarakat pendukung peradaban zaman batu percaya kepada nenek moyang yang pertama kali mendirikan kampung tempat tinggal mereka.Untuk menghormati para nenek moyang tersebut mereka mendirikan menhir yang berupa tiang atau tugu.pada umumnya mereka pun memberikan sesajen pada arwah nenek moyang tersebut sehingga mereka mendirikan dolmen atau meja batu yang juga berfungsi sebagai penutup sarkofagus (tempat menyimpan mayat).Keranda atau peti mati tersebut ada yang berbentuk seperti lesung yang terbuat dari batu.
Pemujaan terhadap arwah nenek juga dilakukan pada punden berundak-undak atau bangunan tumpukan batu yang bertingkat.Mereka juga membangun arca nenek moyangnya dengan maksud yang sama.Bangunan-bangunan Megalitikum banyak ditemukan di dataran tinggi Pasemah, Sumatera Selatan.

2.                          Seni Rupa zaman Logam 

         Zaman logam di Indonesia dikenal sebagai zaman perunggu, Karena banyak ditemukan benda – benda kerajinan dari bahan perunggu seperti ganderang, kapak, bejana, patung dan perhiasan, karya seni tersebut dibuat dengan teknik mengecor (mencetak) yang dikenal dengan 2 teknik mencetak:
1) Bivalve, ialah teknik mengecor yang bisaa di ualng berulang
2) Acire Perdue, ialah teknim mengecor yang hanya satu kali pakai (tidak bisa diulang).

        Setelah melewati tahapan zaman batu terakhir, yaitu zaman batu besar mpailah (megalithikum) sampailah manusia prasejarah Indonesia pada zaman logam.Alat-alat yang terbuat dari batu dianggap tidak efektif (sesuai dengan harapan) lagi, untuk menunjang kehidupan sehari hari secara bertahap ditinggalkan.
        Timbulnya kemampuan membuat alat-alat dari logam merupakan kemajuan.Untuk melebur bijih besi menjadi lempengan besi, diperlukan teknologi baru.Begitu juga dengan lempengan besi menjadi kapak, alat pertanian, seperti mata bajak pun memerlukan pengetahuan.Peradaban zaman ini menghasilkan kapak corong, Candrasa (kapak corong yang salah satu sisinya panjang), nekara berukir yang berfungsi sebagai dandang dan alat upacara, nekara yang tinggi panjang (moko) serta alat-alat pertanian dan perhiasan.
        Melalui proses evolusi, peradaban prasejarah Indonesia mengenal zaman logam, suatu zaman yang lebih maju dibandingkan dengan zaman batu.Dengan peralatan logam, kehidupan bisa berjalan lebih baik, usaha pertanian bisa lebih produktif (memberi hasil).seni yang diciptakan bisa lebih Indah serta perdagangan berjalan dengan cepat dan ramai.