Label

TEKS BERJALAN

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA SALAMAKKI' KI PADA SALAMA'

Senin, 29 April 2013

Ganrang Tunrung Tallua


Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain serta bergantung pada lingkungan dimana mereka berada. Manusia berhubungan dengan lingkungannya di pengaruhi oleh pola kebudayaan yang dimilikinya. Dalam merubah lingkungannya manusia menggunakan kemampuannya agar dapat melangsungkan kehidupannya.
Kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan atau strategi-strategi yang digunakan manusia dalam menghadapi  lingkungannya dengan cara yang berbeda-beda, tergantung dari karakter manusia itu sendiri serta keadaan lingkungannya, baik dari segi cuaca maupun letak geografisnya. Kebudayaan merupakan warisan sosial yang dimiliki oleh setiap masyarakat. masyarakat mematuhi norma-norma serta menjunjung tinggi nilai-nilai yang menjadi aturan pada suatu daerah tertentu, baik masyarakat yang berada diperkotaan maupun yang ada di pedesaan.
Masyarakat  pedesaan memiliki kebiasaan tersendiri yang masih turun-temurun dilakukan dan sudah tidak dijumpai lagi pada masyarakat perkotaan yaitu pelaksanaan upacara tradisional. Upacara tradisional merupakan kegiatan sosial yang melibatkan warga masyarakat tertentu dalam mencapai tujuan bersama dan berusaha melestarikan kehidupannya baik hubungan kepada sesama manusia dalam lingkungannya maupun kepada hal-hal yang dianggap gaib.
Upacara tradisional dapat mempererat solidaritas warga masyarakat dalam melestarikan aturan-aturan yang sudah menjadi pranata sosial dan mengatur tingkah laku agar tidak menyimpang dari kebiasaan yang berlaku pada suatu lingkungan masyarakat. Upacara tradisional memiliki simbol-simbol yang merupakan suatu alat yang dipakai sebagai penghubung antara dunia nyata dan dunia gaib.       
Penyelenggaraan upacara tradisional dilakukan pada waktu-waktu tertentu guna mewariskan kebiasaan para leluhur sebagai usaha untuk meneruskan pengalaman spiritual yang bertujuan untuk memberikan ketenangan, kebersamaan serta solidaritas dalam mengarungi kehidupan.         
Masyarakat Je,ne Taesa dan sekitarnya merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Simbang Kabupaten Maros. Kecamatan Simbang dulunya merupakan wilayah Kecamatan Bantimurung dan pada tahun 2000 dimekarkan menjadi Kecamatan Simbang.  Letaknya berada di sebelah timur kota Maros atau kurang lebih 12 km kearah jalan poros Kabupaten Bone. Desa je,ne taesa dihuni kurang lebih 650 kepala keluarga atau penduduknya berjumlah sekitar 2000 0rang terdiri dari 3 dusun yaitu Dusun Bantimurung, Batu Bassi dan Parang Tinggia. 
Desa je,ne adalah satu desa yang masyarakatnya sebagian besar menggantungkan hidupnya dari bercocok tanam. Sumber pendapatan utamanya adalah padi dan palawija. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Makassar dan 99 persen menganut  Agama Islam. Kata Je’ne Taesa sendiri memiliki arti Je’ne berarti air dan Taesa berarti tidak habis atau tidak berkurang. Kata ini di ambil dari Air yang mengalir pada taman wisata Bantimurung yang dianggap tidak akan habis walaupun musim kemarau panjang.
Dari tiga Dusun yang ada di Desa je’ne Taesa, salah satu diantaranya yakni Dusun Batu Bassi memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan dusun  lainnya di Kecamatan Simbang. Masyarakat Batu Bassi sangat menjujung tinggi budaya adat dan sampai sekarang ini masih dipertahankan. Tradisi yang dimaksud adalah penggunaan gendang adat  pada pelaksanaan pesta perkawinan. Walaupun sudah menjadi tradisi, akan tetapi masyarakat Batu Bassi tidak semuanya diperbolehkan menggunakan gendang  apabila pada pelaksanaan pesta perkawinan tidak menyembelih kerbau. Gendang merupakan simbol pada pesta pesta perkawinan. Suara gendang yang yang mengalun menandakan bahwa pada pelaksanaan pesta perkawinan dilakukan dengan menyembelih seekor kerbau. Aturan tersebut sampai sekarang ini masih diberlakukan dan hampir tidak ada yang berani melanggarnya.
Sesuai dengan tugas kuliah kajian hasil karya seni rupa lokal, maka penulis membatasi materi tentang budaya masyarakat Dusun Batu Bassi secara lebih mendalam, akan tetapi penulis mencoba  membahas salah satu hasil karya seni rupa yang dipergunakan sebagai alat bantu pada pelaksanaan upacara adat pesta perkawinan, Upacara  Appanaung rije’neupacara Tammu taung dan sebagainya,  yaitu Gendang Adat. Orang batu bassi  biasa menyebutnya Ganrang adat tunrung Tallua,  kata “tunrung tallua” merupakan istilah teknik memukul gendang yang menjadi ciri khas masyarakat Batu Bassi  yang membedakan dengan daerah lain.             
             
Menurut informasi yang penulis dapatkan dari salah seorang tokoh masyarakat yang berasal dari dusun Batu Bassi dan  sekaligus pengrajin gendang adat yakni Dg. Baso. Beliau mengatakan bahwa asal usul gendang yang digunakan di Batu Bassi dan sekitarnya berasal dari daerah Bone. Masa waktu kejadiannya diperkirakan sejak ratusan tahun yang lalu. Cerita ini dapat pula dihubungkan dengan dengan sumber informasi lainnya yang mengatakan bahwa  Desa Je’ne taesa dan sekitarnya pada jaman dulu merupakan jalur perjalanan dan merupakan pula tempat persinggahan yang menghubungkan kerajaan Bone dan Kerajaan Gowa, maka terjadilah pembauran budaya, disamping itu ada pula beberapa warga Dusun Batu Bassi yang leluhurnya memang berasal dari daerah Bone. Oleh karena aturan adat yang sangat ketat akhirnya sampai sekarang pembuatan serta penggunaan gendang pada pelaksanaan upacara adat di Dusun Batu Bassi masih tetap bisa di lestarikan.      
Alat yang digunakan pada proses pembuatan gendang adat tunrung tallua di Dusun Batu Bassi Desa Je’ne taesa Kecamatan Simbang Kabupaten Maros adalah parang, pisau, gergaji, amplas, pahat, palu dan lain-lain.
 Bahan yang digunakan adalah berupa kayu pilihan misalnya kayu jati, cendana warga Batu Bassi menyebutnya kayu Patte’ne dan jenis kayu lainnya yang dianggap kategori kayu keras. Menurut Dg. Baso, kayu yang paling baik digunakan adalah kayu Pa’tene, disamping jenis kayunya keras, suara yang dihasilkan sangat nyaring dan berbeda jika menggunakan jenis kayu yang lain. disamping itu dibutuhkan pula bahan pelengkap dalam proses pembuatan seperti,  rotan, kulit kambing, tali dan cincin dari logam.                                  
Teknik pembuatan gendang adat di Dusun Batu Bassi Kecamatan Simbang Kabupaten Maros di mulai dengan pemilihan kayu yang akan digunakan, selanjutnya kayu ditebang dan dibiarkan tergeletak sampai kering,sebaiknya terhindar dari terik matahari. Cara ini dilakukan untuk menghindari terjadinya retakan pada kayu saat dipotong. Setelah dianggap sudah kering, maka mulailah memotong kayu gelondongan  sesuai ukuran panjang yang didinginkan, dan potongan kayu tersebut benar-benar dipilih yang utuh agar supaya dalam proses pembuatan tidak terjadi hal yang tidak diinginkan seperti retak, pecah dan lain-lain. Hindari bagian kayu yang kena mata kayu atau ada bekas cabang atau ranting. 

Sebelum memulai pemahatan maka terlebih dahulu sang pengrajin membaca doa atau mantra agar pada proses pembuatan dapat berjalan lancar dan tidak mendapat hambatan. Pembuatan gendang dilakukan dengan teknik pahat. Menurut Dg. Baso sebagai  pengrajin gendang yang biasa melayani pesanan, proses pemahatan dilakukan dengan dengan cara manual yaitu memahat sedikit demi sedikit dengan penuh kehati-hatian dengan mempergunakan alat seadanya berupa pahat, palu, parang, dan pisau. Dibutuhkan waktu sekitar tujuh sampai sepuluh hari untuk  menyelesaikan sebuah gendang  dengan menggunakan waktu jam kerja dari pagi sampai sore hari. Karena pekerjaan membuat gendang hanya dilakukan pada sore hari setelah melakukan pekerjaan lainnya di sawah atau dikebun, maka untuk menyelesaikan sebuah gendang, maka dg. Baso mengaku membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Ketebalan hasil pemahatan tergantung jenis kayu yang digunakan. Semakin keras kayu yang digunakan maka peluang untuk lebih menipiskan hasil pahatan semakin besar. Ini dilakukan untuk mencapai  suara yang diinginkan. semakin tipis hasil pahatan maka semakin bagus pula suara yang dihasilkan. Jenis kayu Cendana atau orang Batu Bassi menyebutnya  Patte’ne bisa dipahat sampai ketebalan 5-7 mm, sedangkan kayu jati dipahat dikisaran 7mm-1cm. Panjang gendang disesuaikan dengan permintaan, untuk gendang besar panjangnya sekitar 60-80 cm, sedangkan gendang kecil panjangnya sekitar 40-55 cm. Diameter untuk sebuah gendang besar berkisar antara 28-34 cm, sedangkan gendang kecil berdiameter sekitar 14-17 cm. Diameter kedua sisi gendang berbeda ukurannya, bagian sisi yang dipukul dengan menggunakan kayu, lebih besar diameternya sekitar 3-6 cm dibandingkan sisi gendang yang dipukul dengan menggunakan tangan. Demikian pula gendang kecil, ada pula perbedaan antara kedua sisinya sekitar 2-4 cm  
Setelah kayu sudah melalui proses pemahatan dan penghalusan menggunakan pisau dan amplas, maka dilanjutkan dengan pemasangan kulit kambing pada kedua sisi gendang. Kulit kambing yang akan digunakan terlebih dahulu melalui proses pengolahan dengan cara menjemur kulit kambing sampai kering, setelah kulit kambing sudah benar-benar kering, maka dilanjutkan dengan mengeruk bulu kambing hingga bersih dengan menggunakan pisau atau pecah beling. Setelah dinggap layak untuk digunakan, maka diukurlah kulit kambing berdasarkan diameter gendang.
Kulit kambing jantan dipasang disebelah kanan gendang atau bagian sisi gendang yang dipukul dengan menggunakan kayu, sementara kulit kambing betina, dipasang disebelah kiri gendang, atau bagian sisi gendang yang dipukul dengan menggunakan tangan. Menurut Dg. Baso, Alasan sehingga kulit kambing jantan dipasang dikanan atau orang batu bassi mengatakan bagian kepala karena bagian ini memerlukan kulit yang agak tebal agar saat dipukul dengan menggunakan kayu tidak mudah mudah rusak atau bocor, disamping itu memiliki pula arti simbolik yang berarti laki-laki, sedangkan sebelah kiri yang dipasangi kulit kambing betina diartikan sebagai perempuan.  
Setelah melalui proses pengukuran berdasarkan diameter gendang, maka kulit kambing dililitkan pada salah satu jenis rotan berdimeter kecil dan dibagian atasnya di berikan penahan lilitan dari rotan pula. Fungsi dari lilitan kedua sebagai penarik untuk peyetem  suara pada gendang kalau sewaktu-sewaktu suara gendang  berubah yang disebabkan oleh pengaruh suhu atau cuaca.

Setelah gendang sudah dipasangi kulit kambing maka dilanjutkan pemasangan cincin kawat yang berfungsi sebagai stem (setelan) pada gendang, semakin ketengah posisi cincin kawat maka suara yang dihasilkan semakin nyaring. Dan dibagian akhir proses pembuatan gendang adat tunrung tallua Batu Bassi, di buatlah sebuah lubang khusus berdiameter kurang lebih 1 cm yang berfungsi sebagai tempat udara keluar saat gendang dipukul. Ini dilakukan agar gendang tidak mudah retak atau pecah.  Harga jual untuk satu pasang gendang kecil dan sepasang gendang besar berkisar antara 2 juta sampai 2,5 juta tergantung jenis kayu yang digunakan. Pemukul gendang yang digunakan harus pula memilih jenis kayu yang kuat, atau tidak mudah patah atau retak, menurut Dg. Baso,   jenis  kayu yang  bagus adalah jenis kayu asam, jeruk atau batang jambu biji.       
   
Masyarakat  Desa Je’ne Taesa dan sekitarnya  menggunakan  gendang  adat tunrung Tallua pada upacara adat seperti: Pesta Pernikahan, Upacara penghormatan kepada para leluhur yang konon kabarnya ada yg berada  di sungai atau di air, orang Batu Bassi dan sekitarnya menyebutnya upacara Appanaung ri je’ne. serta Upacara meminta  doa  kepada sang pencipta agar pada saat memulai mengerjakan sawah, dapat diberikan  kesehatan  dan mendapatkan hasil panen sesuai apa yg diharapkan. Masyarakat  sambueja yg berdomisili di sekitar Batu Bassi  menyebutnya  Upacara Tammu taung    
Penggunaan gendang adat tunrung tallua di Batu Bassi dan sekitarnya pada upacara  adat  memiliki tujuan tersendiri. Di samping sebagai hiburan, dapat pula  memberikan  makna  simbolik  bagi  yg menggunakannya. Suara gendang  di  Batu  Bassi   menandakan bahwa hajatan yg dilakukan dipastikan menyembelih seekor kerbau. penggunaan gendang merupakan wadah atau sarana untuk memudahkan hubungan kepada dunia sang penguasa alam. Masyarakat Batu Bassi dan sekitarnya menyebutnya“ patanna pa’rasangang”  agar pada pelaksanaan hajatan dapat berjalan lancar dan tidak mendapat hambatan sampai berakhirnya acara.    

Gitaris Cilik


Saya semuaji gank....






Pengamen Kreatif

                     
   caraddeki tawwa gank........

Seni Rupa Prasejarah

                                               
INAKKEJA CIKALI


SENI RUPA PRASEJARAH INDONESIA

Zaman prasejarah (Prehistory) adalah zaman sebelum ditemukan sumber – sumber atau dokumen – dokumen tertulis mengenai kehidupan manusia. Latar belakang kebudayaannya berasal dari kebudayaan Indonesia yang disebarkan oleh bangsa Melayu Tua dan Melayu Muda. Agama asli pada waktu itu animisme dan dinamisme yang melahirkan bentuk kesenian sebagai media upacara (bersifat simbolisme) zaman prasejarah Indonesia terbagi atas: zaman Batu dan zaman Logam.
1.       Seni Rupa Zaman Batu

Jaman batu terbagi lagi menjadi: zaman batu tua (Palaeolithikum), zaman batu menengah (Mesolithikum), zaman batu muda (Neolithikum), kemudian berkembang kesenian dari batu di zaman logam disebut zaman megalithikum (Batu Besar).

Peninggalan – peninggalannya yaitu:

a)      Seni Bangunan

Manusia phaleolithikum belum memiliki tempat tinggal tetap, mereka hidup mengembara (nomaden) dan berburu atau mengumpulkan makanan (food gathering) tanda – tanda adanya karya seni rupa dimulai dari zaman Mesolithikum. Mereka sudah memiliki tempat tinggal di goa – goa. Seperti goa yang ditemukan di di Sulawesi Selatan dan Irian Jaya. Juga berupa rumah – rumah panggung di tepi pantai, dengan bukti – bukti seperti yang ditemukan di pantai Sumatera Timur berupa bukit – bukit kerang (Klokkenmodinger) sebagai sisa – sisa sampah dapur para nelayan

Kemudian zaman Neolithikum, manusia sudah bisa bercocok tanah dan berternak (food producting) serta bertempat tinggal tinggal di rumah – rumah kayu / bambu

Pada zaman megalithikum banyak menghasilkan bangunan – bangunan dari batu yang berukuran besar untuk keperluan upacara agama, seperti punden, dolmen, sarkofaq, meja batu dll.

b)       Seni Patung

Seni patung berkembang pada zaman Neolithikum, berupa patung – patung nenek moyang dan patung penolak bala, bergaya non realistis, terbuat dari kayu atau batu. Kemudian zaman megalithikum banyak ditemukan patung – patung berukuran besar bergaya statis monumental dan dinamis piktural.

c)      Seni Lukis

Dari zaman Mesolithikum ditemukan lukisan – lukisan yang dibuat pada dinding gua seperti lukisan goa di Sulawesi Selatan dan Pantai Selatan Irian Jaya. Tujuan lukisan untuk keperluan magis dan ritual, seperti adegang perburuan binatang lambang nenek moyang dan cap jari. Kemudian pada zaman neolithikum dan megalithikum, lukisan diterapkan pada bangunan – bangunan dan benda – benda kerajinan sebagai hiasan ornamentik (motif geometris atau motif perlambang).


*      Zaman Batu Tua (Paleolitikum)

Berdasarkan temuan geologis, arkeologis, dan paleontologis, zaman batu tua diperkirakan berlangsung selama 600.000 tahun.Selama kurung waktu tersebut manusia hanya menggunakan alat-alat yang paling dekat dengan lingkungan hidup mereka seperti kayu, bambu, dan batu.Mereka menggunakan batu yang masih kasar untuk berburu binatang.Pada saat itu batu juga berfungsi sebagai kapak yang digenggam untuk memotong kayu atau membunuh binatang buruan.
Kehidupan sosial zaman ini masih nomaden atau berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.Kepindahan mereka bergantung pada daya dukung alam berupa tersedianya bahan makanan, terutama binatang buruan.Jika binatang buruan dan bahan makanan yang diambil dari hutan sudah habis, mereka akan mencari dan berpindah ke tempat yang lebih subur.Begitu seterusnya.
Jadi inti kegiatan hidup sehari-hari mereka adalah mengumpulkan bahan makanan dari alam untuk dikomsumsi saat itu.Kegiatan seperti itu disebut peradaban food gathering atau pengumpul makanan tahap awal.

*      Zaman Batu Tengah (Mezolitikum)

Ciri utama peradaban zaman ini adalah manusianya telah bertempat tinggal tetap.Para ahli ilmu purbakala menyebutkan bahwa zaman ini berlagsung kurang lebih 20.000 tahun silam dan dianggap sebagai perkembangan”yang lebih cepat” daripada zaman batu tua.Manusia pendukung zaman ini juga bertempat tinggal di gua yang disebut peradaban abris sous roche.
Ciri utama kehidupan zaman ini adalah peninggalan sampah dapur yang menurut penemunya disebut kjokkenmoddinger.Peradaban ini ditemukan disepanjang pantai timur Sumatera, dari Aceh sampai Sumatera bagian Tengah.Disepanjang pantai tersebut ditemukan tumpukan sampah berupa kulit siput dan kerang.Diduga sampah tersebut dibuang dari tempat tinggal mereka dari generasi yang satu ke generasi yang lain sehingga menumpuk.Mereka melakukannya di tempat yang sama karena mereka telah bertempat tingal menetap.Tumpukan sampah itulah yang disebut kjokkenmoddinger.
Dari tempat sampah dapur tersebut ditemukan juga kapak genggam yang disebut pebble.Mereka juga menggunakan batu pipih dan batu landasan untuk menggiling makanan serta membuat cat yang diperkirakan ada kaitannya dengan kepercayaan mereka.Mereka menggunakan batu yang lebih halus serta panah ergigi yang terbuat dari tulang-tulang hewan untuk berburu binatang.Dari temuan gambar Babi Hutan di Gua Leang-Leang, Sulawesi Selatan yang umurnya sekitar 4000 tahun, diperkirakan bahwa binatang uruan mereka adalah Babi Hutan.Di Gua, mereka juga telah mengenal Seni yang berkaitan dengan kepercayaan mereka, seperti tergambar dari lukisan tangan berwarna merah pada dinding gua tersebut.

*      Zaman Batu Muda (Neolitikum)

Ciri utama zaman batu muda adalah manusia telah menghasilkan makanan atau menjadi pendukung peradaban food producing.menurut Dr.R.Soekmono, ahli arkeologi Indonesia, perubahan dari food gathering ke food producing merupakan satu revolusi karena terjadi perubahan yang cukup mendasar dari tradisi pengumpul makanan menjadi pembuat makanan.Oleh sebab itu, zaman ini dianggap zaman peradaban Indonesia sekarang.
Batu yang mereka gunakan untuk mempermudah hidup sehari-hari telah diasah sehingga terciptalah kapak persegi dan kapak lonjong.Terbentuknya kepandaian mengasah batu menjadi kapak dalam berbagai bentuk tersebut merupakan suatu proses evolusi.Berkembangnya kemampuan berpikir serta tuntutan hidup sehari-hari mempengaruhi terbentuknya gagasan dan tradisi mengasah batu.
Manusia pendukung peradaban ini sudah sudah bertempat tinggal menetap, bercocok tanam, beternak, mengembangkan perikanan atau dengan kata lain telah mengembangkan kebudayaan agraris walaupun dalam tingkatan yang masih sangat sederhana.Mereka juga telah mampu membuat tempat tinggal yang permanen, membuat kerajinan, membuat aturan hidup bersama dalam satu komunitas, misalnya untuk pembagian kerja, dan memiliki kepercayaan terhadap arwah orang yang pertama kali mengembangkan kampung tempat tinggal mereka.

*      Zaman Batu Besar (Megalitikum)

Ciri terpenting pada zaman ini adalah manusia pendukungnya telah menciptakan bangunan-bangunan besar yang terbuat dari batu.Bangunan-bangunan yang berkaitan dengan sistem kepercayaan mareka diantaranya menhir, dolmen, sarkopagus (keranda), kubur batu, punden berundak, dan Arca.
Masyarakat pendukung peradaban zaman batu percaya kepada nenek moyang yang pertama kali mendirikan kampung tempat tinggal mereka.Untuk menghormati para nenek moyang tersebut mereka mendirikan menhir yang berupa tiang atau tugu.pada umumnya mereka pun memberikan sesajen pada arwah nenek moyang tersebut sehingga mereka mendirikan dolmen atau meja batu yang juga berfungsi sebagai penutup sarkofagus (tempat menyimpan mayat).Keranda atau peti mati tersebut ada yang berbentuk seperti lesung yang terbuat dari batu.
Pemujaan terhadap arwah nenek juga dilakukan pada punden berundak-undak atau bangunan tumpukan batu yang bertingkat.Mereka juga membangun arca nenek moyangnya dengan maksud yang sama.Bangunan-bangunan Megalitikum banyak ditemukan di dataran tinggi Pasemah, Sumatera Selatan.

2.        Seni Rupa zaman Logam 


Zaman logam di Indonesia dikenal sebagai zaman perunggu, Karena banyak ditemukan benda – benda kerajinan dari bahan perunggu seperti ganderang, kapak, bejana, patung dan perhiasan, karya seni tersebut dibuat dengan teknik mengecor (mencetak) yang dikenal dengan 2 teknik mencetak:

1) Bivalve, ialah teknik mengecor yang bisaa di ualng berulang

2) Acire Perdue, ialah teknim mengecor yang hanya satu kali pakai (tidak bisa diulang).

Setelah melewati tahapan zaman batu terakhir, yaitu zaman batu besar mpailah (megalithikum) sampailah manusia prasejarah Indonesia pada zaman logam.Alat-alat yang terbuat dari batu dianggap tidak efektif (sesuai dengan harapan) lagi, untuk menunjang kehidupan sehari hari secara bertahap ditinggalkan


Timbulnya kemampuan membuat alat-alat dari logam merupakan kemajuan.Untuk melebur bijih besi menjadi lempengan besi, diperlukan teknologi baru.Begitu juga dengan lempengan besi menjadi kapak, alat pertanian, seperti mata bajak pun memerlukan pengetahuan.Peradaban zaman ini menghasilkan kapak corong, Candrasa (kapak corong yang salah satu sisinya panjang), nekara berukir yang berfungsi sebagai dandang dan alat upacara, nekara yang tinggi panjang (moko) serta alat-alat pertanian dan perhiasan.


Melalui proses evolusi, peradaban prasejarah Indonesia mengenal zaman logam, suatu zaman yang lebih maju dibandingkan dengan zaman batu.Dengan peralatan logam, kehidupan bisa berjalan lebih baik, usaha pertanian bisa lebih produktif (memberi hasil).seni yang diciptakan bisa lebih Indah serta perdagangan berjalan dengan cepat dan ramai.