Kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan atau
strategi-strategi yang digunakan manusia dalam menghadapi lingkungannya
dengan cara yang berbeda-beda, tergantung dari karakter manusia itu sendiri
serta keadaan lingkungannya, baik dari segi cuaca maupun letak
geografisnya. Kebudayaan merupakan warisan sosial yang dimiliki oleh
setiap masyarakat. masyarakat mematuhi norma-norma serta menjunjung tinggi
nilai-nilai yang menjadi aturan pada suatu daerah tertentu, baik masyarakat
yang berada diperkotaan maupun yang ada di pedesaan.
Masyarakat pedesaan memiliki kebiasaan tersendiri yang masih
turun-temurun dilakukan dan sudah tidak dijumpai lagi pada masyarakat perkotaan
yaitu pelaksanaan upacara tradisional. Upacara tradisional merupakan kegiatan
sosial yang melibatkan warga masyarakat tertentu dalam mencapai tujuan bersama
dan berusaha melestarikan kehidupannya baik hubungan kepada sesama manusia
dalam lingkungannya maupun kepada hal-hal yang dianggap gaib.
Upacara tradisional dapat mempererat solidaritas warga masyarakat
dalam melestarikan aturan-aturan yang sudah menjadi pranata sosial dan mengatur
tingkah laku agar tidak menyimpang dari kebiasaan yang berlaku pada suatu lingkungan
masyarakat. Upacara tradisional memiliki simbol-simbol yang merupakan suatu
alat yang dipakai sebagai penghubung antara dunia nyata dan dunia
gaib.
Penyelenggaraan upacara tradisional dilakukan pada waktu-waktu
tertentu guna mewariskan kebiasaan para leluhur sebagai usaha untuk meneruskan
pengalaman spiritual yang bertujuan untuk memberikan ketenangan, kebersamaan
serta solidaritas dalam mengarungi kehidupan.
Masyarakat Je,ne Taesa dan sekitarnya merupakan sebuah desa yang
terletak di Kecamatan Simbang Kabupaten Maros. Kecamatan Simbang dulunya
merupakan wilayah Kecamatan Bantimurung dan pada tahun 2000 dimekarkan menjadi
Kecamatan Simbang. Letaknya berada di sebelah timur kota Maros atau
kurang lebih 12 km kearah jalan poros Kabupaten Bone. Desa je,ne taesa dihuni
kurang lebih 650 kepala keluarga atau penduduknya berjumlah sekitar 2000 0rang
terdiri dari 3 dusun yaitu Dusun Bantimurung, Batu Bassi dan Parang
Tinggia.
Dari tiga Dusun yang ada di Desa je’ne Taesa, salah satu
diantaranya yakni Dusun Batu Bassi memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan
dengan dusun lainnya di Kecamatan Simbang. Masyarakat Batu Bassi sangat
menjujung tinggi budaya adat dan sampai sekarang ini masih dipertahankan.
Tradisi yang dimaksud adalah penggunaan gendang adat pada pelaksanaan
pesta perkawinan. Walaupun sudah menjadi tradisi, akan tetapi masyarakat Batu
Bassi tidak semuanya diperbolehkan menggunakan gendang apabila pada
pelaksanaan pesta perkawinan tidak menyembelih kerbau. Gendang merupakan simbol
pada pesta pesta perkawinan. Suara gendang yang yang mengalun menandakan bahwa
pada pelaksanaan pesta perkawinan dilakukan dengan menyembelih seekor kerbau.
Aturan tersebut sampai sekarang ini masih diberlakukan dan hampir tidak ada
yang berani melanggarnya.
Sesuai dengan tugas kuliah kajian hasil karya seni rupa lokal,
maka penulis membatasi materi tentang budaya masyarakat Dusun Batu Bassi secara
lebih mendalam, akan tetapi penulis mencoba membahas salah satu hasil
karya seni rupa yang dipergunakan sebagai alat bantu pada pelaksanaan upacara
adat pesta perkawinan,
Upacara Appanaung
rije’ne, upacara
Tammu taung dan sebagainya, yaitu Gendang Adat. Orang
batu bassi biasa menyebutnya Ganrang adat tunrung Tallua,
kata “tunrung
tallua” merupakan istilah teknik memukul gendang yang
menjadi ciri khas masyarakat Batu Bassi yang membedakan dengan daerah
lain.
Alat yang digunakan pada proses pembuatan gendang adat tunrung tallua di Dusun Batu Bassi Desa Je’ne taesa Kecamatan Simbang Kabupaten Maros adalah parang, pisau, gergaji, amplas, pahat, palu dan lain-lain.
Bahan
yang digunakan adalah berupa kayu pilihan misalnya kayu jati, cendana warga
Batu Bassi menyebutnya kayu Patte’ne dan
jenis kayu lainnya yang dianggap kategori kayu keras. Menurut Dg. Baso, kayu
yang paling baik digunakan adalah kayu Pa’tene, disamping jenis kayunya keras,
suara yang dihasilkan sangat nyaring dan berbeda jika menggunakan jenis kayu
yang lain. disamping itu dibutuhkan pula bahan pelengkap dalam proses pembuatan
seperti, rotan, kulit kambing, tali dan cincin dari logam.
Teknik pembuatan gendang adat di Dusun Batu Bassi Kecamatan
Simbang Kabupaten Maros di mulai dengan pemilihan kayu yang akan digunakan,
selanjutnya kayu ditebang dan dibiarkan tergeletak sampai kering,sebaiknya
terhindar dari terik matahari. Cara ini dilakukan untuk menghindari terjadinya
retakan pada kayu saat dipotong. Setelah dianggap sudah kering, maka mulailah
memotong kayu gelondongan sesuai ukuran panjang yang didinginkan, dan
potongan kayu tersebut benar-benar dipilih yang utuh agar supaya dalam proses
pembuatan tidak terjadi hal yang tidak diinginkan seperti retak, pecah dan
lain-lain. Hindari bagian kayu yang kena mata kayu atau
ada bekas cabang atau ranting.
Sebelum memulai pemahatan maka terlebih dahulu sang pengrajin
membaca doa atau mantra agar pada proses pembuatan dapat berjalan lancar dan
tidak mendapat hambatan. Pembuatan gendang dilakukan dengan teknik pahat.
Menurut Dg. Baso sebagai pengrajin gendang yang biasa melayani pesanan,
proses pemahatan dilakukan dengan dengan cara manual yaitu memahat sedikit demi
sedikit dengan penuh kehati-hatian dengan mempergunakan alat seadanya berupa
pahat, palu, parang, dan pisau. Dibutuhkan waktu sekitar tujuh sampai sepuluh
hari untuk menyelesaikan sebuah gendang dengan menggunakan waktu
jam kerja dari pagi sampai sore hari. Karena pekerjaan membuat gendang hanya
dilakukan pada sore hari setelah melakukan pekerjaan lainnya di sawah atau
dikebun, maka untuk menyelesaikan sebuah gendang, maka dg. Baso mengaku membutuhkan
waktu sekitar satu bulan. Ketebalan hasil pemahatan tergantung jenis kayu yang
digunakan. Semakin keras kayu yang digunakan maka peluang untuk lebih
menipiskan hasil pahatan semakin besar. Ini dilakukan untuk mencapai
suara yang diinginkan. semakin tipis hasil pahatan maka semakin bagus pula
suara yang dihasilkan. Jenis kayu Cendana atau orang Batu Bassi menyebutnya
Patte’ne bisa
dipahat sampai ketebalan 5-7 mm, sedangkan kayu jati dipahat dikisaran 7mm-1cm.
Panjang gendang disesuaikan dengan permintaan, untuk gendang besar panjangnya
sekitar 60-80 cm, sedangkan gendang kecil panjangnya sekitar 40-55 cm. Diameter
untuk sebuah gendang besar berkisar antara 28-34 cm, sedangkan gendang kecil
berdiameter sekitar 14-17 cm. Diameter kedua sisi gendang berbeda ukurannya,
bagian sisi yang dipukul dengan menggunakan kayu, lebih besar diameternya
sekitar 3-6 cm dibandingkan sisi gendang yang dipukul dengan menggunakan
tangan. Demikian pula gendang kecil, ada pula perbedaan antara kedua sisinya
sekitar 2-4 cm
Kulit kambing jantan dipasang disebelah kanan gendang atau bagian
sisi gendang yang dipukul dengan menggunakan kayu, sementara kulit kambing
betina, dipasang disebelah kiri gendang, atau bagian sisi gendang yang dipukul
dengan menggunakan tangan. Menurut Dg. Baso, Alasan sehingga kulit kambing
jantan dipasang dikanan atau orang batu bassi mengatakan bagian kepala karena
bagian ini memerlukan kulit yang agak tebal agar saat dipukul dengan
menggunakan kayu tidak mudah mudah rusak atau bocor, disamping itu memiliki
pula arti simbolik yang berarti laki-laki, sedangkan sebelah kiri yang
dipasangi kulit kambing betina diartikan sebagai perempuan.
Setelah melalui proses pengukuran berdasarkan diameter gendang,
maka kulit kambing dililitkan pada salah satu jenis rotan berdimeter kecil dan
dibagian atasnya di berikan penahan lilitan dari rotan pula. Fungsi dari
lilitan kedua sebagai penarik untuk peyetem suara pada gendang kalau
sewaktu-sewaktu suara gendang berubah yang disebabkan oleh pengaruh suhu
atau cuaca.
Setelah gendang sudah dipasangi kulit kambing maka dilanjutkan
pemasangan cincin kawat yang berfungsi sebagai stem (setelan) pada gendang,
semakin ketengah posisi cincin kawat maka suara yang dihasilkan semakin
nyaring. Dan dibagian akhir proses pembuatan gendang adat tunrung tallua Batu
Bassi, di buatlah sebuah lubang khusus berdiameter kurang lebih 1 cm yang
berfungsi sebagai tempat udara keluar saat gendang dipukul. Ini dilakukan agar
gendang tidak mudah retak atau pecah. Harga jual untuk satu pasang
gendang kecil dan sepasang gendang besar berkisar antara 2 juta sampai 2,5 juta
tergantung jenis kayu yang digunakan. Pemukul gendang yang digunakan harus pula
memilih jenis kayu yang kuat, atau tidak mudah patah atau retak, menurut Dg.
Baso, jenis kayu yang bagus adalah jenis kayu
asam, jeruk atau batang jambu biji.
Masyarakat Desa Je’ne Taesa dan sekitarnya menggunakan
gendang adat tunrung Tallua pada upacara adat seperti: Pesta
Pernikahan, Upacara penghormatan kepada para leluhur yang konon kabarnya
ada yg berada di sungai atau di air, orang Batu Bassi dan sekitarnya
menyebutnya upacara Appanaung
ri je’ne. serta Upacara meminta doa kepada
sang pencipta agar pada saat memulai mengerjakan sawah, dapat diberikan
kesehatan dan mendapatkan hasil panen sesuai apa yg
diharapkan. Masyarakat sambueja yg berdomisili di sekitar Batu Bassi
menyebutnya Upacara Tammu
taung
Penggunaan gendang adat tunrung tallua di Batu Bassi dan
sekitarnya pada upacara adat memiliki tujuan tersendiri. Di
samping sebagai hiburan, dapat pula memberikan makna simbolik
bagi yg menggunakannya. Suara gendang di Batu
Bassi menandakan bahwa hajatan yg dilakukan dipastikan
menyembelih seekor kerbau. penggunaan gendang merupakan wadah atau sarana untuk
memudahkan hubungan kepada dunia sang penguasa alam. Masyarakat Batu Bassi dan
sekitarnya menyebutnya“
patanna pa’rasangang” agar
pada pelaksanaan hajatan dapat berjalan lancar dan tidak mendapat hambatan
sampai berakhirnya acara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar